RUANGNUSA.COM I ABDYA – Dalam upaya mencegah kepunahan tradisi, Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Wilayah Aceh Barat Daya (Abdya) menggelar perlombaan berbasis kearifan lokal dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) ke-67.

Kegiatan yang melibatkan peserta didik tingkat SMA, SMK, dan SLB se-Kabupaten Abdya tersebut berlangsung di Aula Cabdin Abdya, Kamis (3/9/2026).

Dalam kegiatan itu, Cabdin memperlombakan 3 jenis lomba, yaitu:
1. Pidato dalam Bahasa Aceh
2. Manyum Breu’et atau menganyam kelerai
3. Sangkeue Manoek atau membuat sangkar telur.

Kepala Cabdin Abdya, Andri Nofidar mengatakan, kegiatan tersebut tidak semata-mata bertujuan mencari pemenang, tetapi menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali budaya dan kearifan lokal Aceh di kalangan generasi muda.

“Kegiatan ini terlaksana berkat kolaborasi seluruh insan pendidikan di Abdya, khususnya tingkat SMA, SMK dan SLB. Perlombaan ini kita fokuskan pada pengembangan serta pelestarian nilai-nilai kearifan lokal yang kian tergerus zaman,” kata Andri.

Menurutnya, perlombaan tersebut sengaja mengangkat keterampilan yang berkaitan dengan budaya lokal agar generasi muda kembali mengenal adat dan tradisi yang mulai ditinggalkan.

“Tujuan utama dilaksanakan perlombaan ini bukan sekedar mencari pemenang, melainkan untuk melestarikan adat dan budaya Aceh yang mulai asing bagi generasi muda. Kami ingin anak-anak kembali memahami serta mempraktikkan kearifan lokal daerahnya,” ucap Andri.

Andri juga menjelaskan, meskipun bahan kerajinan yang digunakan merupakan material sederhana, namun masih dapat dimanfaatkan kembali. Hal ini menjadi pembelajaran bagi peserta didik untuk melihat nilai guna dari bahan-bahan di lingkungan sekitar.

Ia berharap generasi penerus tidak hanya berprestasi dalam bidang akademik maupun keterampilan, tetapi tetap teguh pada identitas budaya lokal dan memiliki kepedulian terhadap budaya daerah.

Ketua Panitia, Ilham Sahputra menambahkan, kegiatan ini merupakan inisiatif Cabdin Abdya untuk memperkenalkan kembali budaya Aceh. Peserta yang terlibat berasal dari 21 sekolah tingkat SMA, SMK, dan SLB se-Abdya. Setiap sekolah mengirimkan 3 perwakilan untuk bertanding di 3 cabang lomba.

“Pada saat ini kita lihat banyak anak-anak kita yang sudah tidak tahu lagi mengenai cara membuat breu’et dan sangkeue manoek. Begitu juga dengan bahasa kita, yaitu bahasa Aceh,” terangnya.

Selain kerajinan, lomba pidato bahasa Aceh juga penting untuk mengenalkan keberagaman logat. Sebab di Abdya terdapat beragam dialek Aceh dari berbagai daerah.

“Melalui lomba pidato ini, para siswa dapat saling mengenal kekayaan bahasa tersebut,” ucap Ilham.

Andri berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin dengan melibatkan partisipasi masyarakat yang lebih luas. Ke depan, Cabdin juga membuka peluang menambah jenis perlombaan, termasuk mengangkat kuliner khas daerah.

“Karena hari ini kita melihat banyak masyarakat kita, orang Aceh sendiri, sudah lupa dengan budaya yang ada di Aceh,” ungkap Andri Nofidar.

Dengan lomba ini, diharapkan anak-anak Abdya dapat mengenal dan melestarikan budaya Aceh, khususnya dalam kerajinan tradisional serta membudayakan bahasa Aceh di lingkungan masyarakat.