RUANGNUSA.COM I TAPAKTUAN – Buku pelajaran bukan satu-satunya sumber ilmu. Sejarah bisa dipelajari langsung dari situs peninggalan masa lalu, budaya dapat dipahami melalui karya para perajin, dan kewirausahaan bisa dikenali dengan menyaksikan proses produksi di tengah masyarakat.

Inilah pengalaman berbeda yang diperoleh siswa Sekolah Rakyat 10 Aceh Selatan melalui kegiatan outing class dan Krida Pagi di Tapaktuan, Senin (2/11/2026). Mereka tidak hanya keluar dari rutinitas ruang kelas, tetapi juga diajak menyelami sejarah, memperkuat nilai kerohanian, serta mengenal potensi ekonomi daerah.

Kepala Sekolah Rakyat 10 Aceh Selatan, Junaedi Dongoran,M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan outing class kali ini diarahkan pada pembelajaran kerohanian sekaligus pengenalan sejarah lokal.

Para siswa mengunjungi makam Tuan Tapa dan masjid tua untuk mengenal lebih dekat jejak sejarah serta kisah Tuan Tapa yang melekat dalam perjalanan sejarah dan kebudayaan Aceh Selatan.

Kunjungan tersebut menjadi pengalaman belajar yang berbeda. Siswa tidak hanya membaca kisah sejarah dari buku, tetapi melihat langsung lokasi bersejarah dan mengenal warisan budaya yang menjadi bagian dari identitas daerah.

Namun, pembelajaran tidak berhenti pada sejarah dan kerohanian. Melalui kegiatan Krida Pagi, para siswa diajak memasuki dunia kewirausahaan dengan mengunjungi tempat kerajinan kasab dan usaha pengolahan pala.

Mereka berkesempatan menyaksikan langsung keterampilan para perajin, proses produksi, hingga bagaimana potensi lokal diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Dari kerajinan kasab, siswa dapat mengenal kreativitas dan ketekunan dalam menghasilkan karya. Sementara dari pengolahan pala, mereka diperkenalkan pada potensi komoditas unggulan daerah yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk usaha.

Pengalaman ini membawa pesan penting bahwa peluang ekonomi tidak selalu harus dicari jauh dari daerah sendiri. Kekayaan alam, keterampilan masyarakat, dan kearifan lokal dapat menjadi modal untuk membangun usaha dan kemandirian.

Junaedi Dongoran menegaskan, pembelajaran di luar kelas menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan dan pengalaman peserta didik. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi secara teoritis, tetapi juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar langsung dari lingkungan kehidupan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, Sekolah Rakyat 10 Aceh Selatan ingin membangun peserta didik yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga karakter, pemahaman kerohanian, kecintaan terhadap sejarah dan budaya daerah, serta keterampilan untuk menghadapi tantangan masa depan.

Sebab, pendidikan yang bermakna bukan hanya mengajarkan anak untuk mengetahui sesuatu, tetapi juga membimbing mereka memahami kehidupan. Dari jejak sejarah Tuan Tapa hingga proses pengolahan pala, siswa belajar mengenali jati diri daerah sekaligus membaca peluang masa depan.