RUANGNUSA.COM I TAPAKTUAN – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Aceh Selatan menggelar diskusi bertema “Penguatan Kapasitas Wartawan” di Cafe Sawang Bambu, Desa Lhok Keutapang, Kecamatan Tapaktuan, Selasa (8/9/2026).

Diskusi membahas tantangan wartawan di tengah perkembangan media digital, terutama terkait kemampuan memilah informasi, melakukan verifikasi, menjaga akurasi, serta mempertahankan independensi dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Kegiatan dihadiri anggota PWI Aceh Selatan dengan menghadirkan wartawan senior dan praktisi pers sebagai pemateri.

Kompetensi Jadi Fondasi Karya Jurnalistik Berkualitas

Pemateri pertama, Masluyuddin Penasehat PWI Aceh Selatan bersertifikat Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Utama, menyampaikan materi “Penguatan Kompetensi dan Profesionalisme Wartawan dalam Menghasilkan Produk Jurnalistik Berkualitas.”

Masluyuddin mengatakan kompetensi menjadi fondasi penting bagi wartawan dalam menghasilkan karya berkualitas.

Menurutnya, kemampuan menulis perlu diikuti dengan kemampuan melakukan verifikasi, memahami konteks, menggali informasi dari berbagai sumber, serta mempertimbangkan kepentingan publik.

“Wartawan juga harus mampu membedakan antara fakta, opini, asumsi, dan informasi yang belum terverifikasi. Hal ini semakin penting karena di media sosial informasi menyebar cepat, sementara kebenarannya belum tentu teruji,” kata Masluyuddin.

Kecepatan Tak Boleh Korbankan Akurasi

Materi kedua disampaikan Sudirman Hamid, Ketua SMSI Aceh Selatan sekaligus anggota PWI Aceh Selatan bersertifikat UKW Madya, dengan tema “Jurnalistik di Era Digital: Kecepatan, Akurasi dan Independensi Media.”

Ia mengatakan kecepatan menjadi tuntutan kerja jurnalistik di media digital. Namun kecepatan publikasi tidak boleh mengorbankan akurasi dan proses verifikasi.

“Berita yang cepat tetapi keliru justru dapat merusak kepercayaan publik. Karena itu, kecepatan harus tetap berada dalam koridor akurasi dan verifikasi,” kata Sudirman.

Menurutnya, wartawan perlu tetap menjalankan proses jurnalistik secara cermat meskipun menghadapi persaingan kecepatan antar-media.

Diskusi berlangsung terbuka. Peserta membahas persoalan memperoleh informasi, menghadapi narasumber, menentukan sudut pandang pemberitaan, hingga menjaga independensi media.

Ketua PWI Aceh Selatan, Muhammad Taufik Zas, mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas wartawan sekaligus memperkuat kebersamaan antar anggota.

Ia mengajak anggota menjaga kekompakan dan soliditas organisasi.

“PWI Aceh Selatan harus tetap kompak dan solid. Kita boleh berbeda dalam pandangan, tetapi ketika menyangkut organisasi dan kepentingan bersama, kita harus berdiri bersama,” kata Taufik.

Taufik menilai kekuatan organisasi wartawan tidak hanya ditentukan jumlah anggota, tetapi juga kualitas SDM dan kemampuan menjaga profesionalitas serta marwah profesi. Karena itu peningkatan kapasitas perlu dilakukan berkelanjutan.

“Wartawan tidak boleh berhenti belajar. Teknologi berubah, pola konsumsi informasi berubah, sehingga kemampuan wartawan juga harus terus berkembang,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan anggota PWI Aceh Selatan agar menjalankan tugas jurnalistik berpedoman pada prinsip jurnalistik,Kode Etik Jurnalistik, serta UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

“Jangan sampai kebebasan pers dipahami sebagai kebebasan tanpa batas. Justru semakin besar kebebasan yang kita miliki, semakin besar pula tanggung jawab kita kepada publik,” katanya.

Taufik menegaskan kepercayaan masyarakat adalah modal penting bagi media dan wartawan. Karena itu wartawan harus menjaga akurasi, keberimbangan dan verifikasi agar informasi dapat dipertanggungjawabkan.

“Pada akhirnya, yang kita pertahankan bukan hanya nama media atau organisasi, tetapi kepercayaan publik terhadap profesi wartawan,” ujar Taufik.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan pertukaran pengalaman antar anggota PWI Aceh Selatan terkait praktik jurnalistik dan tantangan kerja di era digital.