Makna Kenduri Blang Menurut Bupati Mirwan: Antara Adat, Syariat, dan Kesejahteraan Petani
RUANGNUSA.COM I TAPAKTUAN-
Tradisi Kenduri Blang kembali digelar di Kecamatan Labuhanhaji Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Rabu (8/7/2026). Bupati Aceh Selatan H. Mirwan MS menegaskan kegiatan ini bukan sekadar ritual adat menjelang musim tanam, tetapi juga momentum memperkuat nilai religius, kebersamaan, dan gotong royong masyarakat tani.
Dalam sambutannya, Bupati Mirwan menyampaikan bahwa Kenduri Blang merupakan warisan budaya Aceh yang memiliki makna mendalam.
Bagi masyarakat Aceh Selatan, tradisi ini menjadi simbol pendekatan diri kepada Allah SWT, ungkapan syukur atas rezeki, sekaligus ajang mempererat silaturahmi sebelum memulai musim tanam padi.
“Hari ini kita berkumpul untuk berdoa bersama, memohon kepada Allah SWT agar tanaman padi dijauhkan dari segala hama dan penyakit, diberikan kecukupan air, serta menghasilkan panen yang melimpah,” ujar Mirwan di hadapan warga Labuhanhaji Timur.
Bupati menekankan keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh kerja keras petani. Kekompakan seluruh elemen masyarakat juga memegang peran penting.
Karena itu, koordinasi antara keujruen blang, pemerintah, dan para petani dalam mengatur jadwal tanam serta pembagian air irigasi harus terus dijaga.
Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan juga berkomitmen menjadikan pertanian sebagai prioritas pembangunan. Sejumlah program akan terus didorong melalui dinas terkait.
Diantaranya, perbaikan saluran irigasi dan jalan tani, penyediaan pupuk dan benih unggul serta penguatan peran Penyuluh Pertanian Lapangan atau PPL.
“Kami menyadari sebagian besar masyarakat Labuhanhaji Timur menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian. Karena itu, pemerintah akan terus hadir memberikan dukungan agar produktivitas petani semakin meningkat,” katanya.
Di kesempatan yang sama, Bupati Mirwan mengajak petani mematuhi jadwal tanam yang sudah disepakati bersama. Ia juga meminta agar lahan pertanian dimanfaatkan secara optimal dan tidak dibiarkan terlantar.
Apresiasi disampaikan kepada panitia, tokoh adat, imum mukim, keujruen blang, keuchik, serta seluruh masyarakat Labuhanhaji Timur yang terus menjaga tradisi Kenduri Blang sebagai bagian dari identitas budaya Aceh.
Mengutip falsafah Aceh “Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala”, Mirwan menegaskan kekuatan masyarakat Aceh terletak pada eratnya hubungan antara adat istiadat dan syariat Islam.
Ia menutup sambutannya dengan ajakan menyambut musim tanam dengan optimisme, kerja keras, dan doa. Harapannya, setiap ikhtiar petani mendapat keberkahan dari Allah SWT dan menghasilkan panen melimpah demi kesejahteraan masyarakat Aceh Selatan.

Tinggalkan Balasan