RUANGNUSA.COM I TAPAKTUAN – Bagi
Ernasyah dan Wardiati, keberadaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuta Trieng, Kecamatan Labuhanhaji Barat memiliki arti lebih dari sekadar tempat bekerja.

Dua perempuan asal Gampong Kuta Trieng yang sama-sama berstatus janda dan memiliki anak sekolah itu menjadikan kesempatan sebagai relawan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu penopang ekonomi keluarga.

Penghasilan dari aktivitas di dapur SPPG membantu keduanya memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus biaya pendidikan anak-anak.

Ernasyah yang bertugas di bagian masak mengatakan keberadaan SPPG memberi kesempatan masyarakat bekerja tanpa harus meninggalkan kampung halaman.

“Bagi kami, bisa bergabung di SPPG sangat membantu. Anak-anak masih sekolah dan kebutuhan keluarga harus tetap dipenuhi. Dengan adanya pekerjaan di dapur MBG, kami bisa ikut menopang perekonomian keluarga,” ujar Ernasyah, Kamis (10/9/2026).

Menurutnya, manfaat program MBG tidak hanya dirasakan anak-anak penerima makanan bergizi. Aktivitas SPPG juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar dan menggerakkan perekonomian masyarakat.

Karena itu Ernasyah berharap program MBG melalui SPPG dapat terus berjalan secara berkelanjutan.

“Saya berharap program ini terus berjalan. Bukan hanya karena manfaatnya untuk anak-anak, tetapi juga karena banyak masyarakat yang mendapatkan pekerjaan dari dapur SPPG,” katanya.

Hal senada disampaikan Wardiati, warga Gampong Kuta Trieng yang juga berstatus janda dengan anak masih sekolah.

Wardiati menyebut keberadaan dapur MBG telah memberikan peluang baginya untuk tetap bekerja dan memperoleh penghasilan.

“Bagi saya, dapur MBG ini seperti mata kehidupan. Dari sini kami mendapatkan penghasilan untuk membantu kebutuhan keluarga dan anak-anak yang masih sekolah,” ujar Wardiati.

Menurutnya, keberlanjutan program MBG melalui SPPG sangat penting bagi para relawan yang menggantungkan sebagian kebutuhan ekonomi keluarga dari pekerjaan tersebut.

“Kalau program ini terus berjalan, kami juga punya kepastian untuk bekerja. Kami berharap MBG melalui SPPG ini bisa berkelanjutan dan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Bagi Ernasyah dan Wardiati, dapur SPPG Kuta Trieng kini menjadi bagian dari kehidupan ekonomi keluarga. Mereka tidak hanya terlibat dalam penyediaan makanan bagi penerima manfaat, tetapi juga mendapatkan kesempatan meningkatkan pendapatan.

Kisah keduanya menunjukkan pelaksanaan program MBG melalui SPPG memiliki dampak lebih luas. Selain fungsi pemenuhan gizi, keberadaan dapur juga menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat lokal dan ikut menggerakkan roda ekonomi di tingkat gampong.

Harapan mereka sederhana program MBG tetap berjalan, dikelola dengan baik, dan berkelanjutan. Sebab bagi mereka, keberadaan dapur SPPG bukan hanya tentang pekerjaan hari ini, tetapi juga tentang menjaga keberlangsungan kehidupan dan pendidikan anak-anak.