Hari Pertama Sekolah 2026: Kemenag Aceh Selatan Ajak Orang Tua Ikut GAMAS Bentuk Karakter Anak
RUANGNUSA.COM I TAPAKTUAN — Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru bukan hanya seremoni biasa. Bagi Kementerian Agama Kabupaten Aceh Selatan, momen ini adalah titik awal penting dalam membentuk karakter dan masa depan anak.
Untuk itu, Kemenag Aceh Selatan menggagas Gerakan Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah atau GAMAS. Gerakan ini mengajak seluruh orang tua di Tapaktuan dan wilayah Aceh Selatan untuk ikut mengantar anak ke sekolah secara langsung.
Kehadiran Orang Tua Turunkan Kecemasan Anak
Kepala Kantor Kemenag Aceh Selatan, Khairul Huda, S.H.I.,M.Si., mengatakan pendampingan orang tua di hari pertama memiliki dampak besar secara psikologis.
“Anak yang masuk lingkungan belajar baru sering merasa cemas dan takut. Kehadiran ayah atau ibu di sekolah memberi rasa aman dan menambah kepercayaan diri anak untuk berinteraksi dengan guru dan teman,” ujar Khairul Huda, Jumat (10/7/2026).
Ia menegaskan, mengantar anak bukan hanya sampai di gerbang. Dukungan emosional sederhana itu akan membekas dan menjadi pondasi tumbuhnya rasa percaya diri, kemandirian, serta semangat belajar.
GAMAS Dukung Penguatan Pendidikan Karakter Nasional
Gerakan GAMAS sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat yang kini fokus pada penguatan pendidikan karakter. Pendidikan tidak lagi hanya soal nilai akademik, tapi juga akhlak mulia, kepemimpinan, gotong royong, integritas, dan kemampuan beradaptasi.
Dalam hal ini, keluarga disebut sebagai “sekolah pertama”. Nilai disiplin, jujur, tanggung jawab, dan sopan santun yang diajarkan di rumah akan diperkuat saat anak belajar di madrasah dan sekolah.
“Sinergi keluarga dan sekolah adalah kunci. Sekolah tidak bisa jalan sendiri tanpa dukungan penuh orang tua,” tegas Khairul Huda.
Bagian dari MPLS Ramah Anak di Madrasah
GAMAS juga dirangkai dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang ramah anak. Dengan adanya orang tua, proses adaptasi siswa baru diharapkan berjalan nyaman, tanpa tekanan dan intimidasi.
Khusus untuk madrasah di bawah Kemenag, pendidikan karakter juga mengintegrasikan nilai keislaman dan kearifan lokal Aceh. Seperti membiasakan hormat kepada guru dan orang tua, musyawarah, gotong royong, dan peduli lingkungan.
Menurut Khairul Huda, kombinasi pendidikan agama, budaya lokal, dan peran keluarga adalah modal melahirkan generasi yang religius, cerdas, berkarakter, dan punya ketahanan moral di era digital.
Ia berharap budaya mendampingi anak tidak berhenti di hari pertama. “Perhatian kecil dari orang tua setiap hari adalah investasi besar untuk Indonesia Emas 2045,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan