RUANGNUSA.COM I TAPAKTUAN –
Dayah Darul Wustha yang berlokasi di Desa Ujung Padang, Kecamatan Labuhanhaji Barat, Kabupaten Aceh Selatan, meresmikan Satuan Pendidikan Muadalah (SPM) jenjang Wustha dan Ulya, Rabu (15/7/2026).

Peresmian ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat eksistensi pendidikan dayah sebagai bagian yang diakui dalam sistem pendidikan nasional.

Hadirnya SPM bukan sekadar penambahan jenjang pendidikan, melainkan transformasi besar yang mengintegrasikan pendidikan agama dengan pendidikan umum dalam satu sistem terstruktur, berkualitas, dan memiliki legalitas setara sekolah formal.

Melalui SPM, santri tetap mendapatkan pendalaman ilmu keislaman seperti Al-Qur’an, tafsir, hadis, fikih, tauhid, bahasa Arab, dan ilmu klasik pesantren. Bersamaan dengan itu, mereka juga memperoleh mata pelajaran umum seperti matematika, sains, bahasa, teknologi informasi, hingga ilmu sosial.

Model ini diharapkan melahirkan generasi muslim yang kuat secara spiritual dan akhlak, sekaligus unggul dalam ilmu pengetahuan, siap melanjutkan pendidikan tinggi, dan mampu bersaing di dunia kerja.

Pimpinan Dayah Darul Wustha yang juga Anggota DPRA, Tgk. H. Attarmizi Hamid, mengatakan berdirinya SPM merupakan buah perjuangan panjang keluarga besar dayah.

“Sejak awal kami menggagas hadirnya pendidikan setingkat SMP/MTs dan SMA/MA di lingkungan dayah agar santri memperoleh pendidikan yang utuh. Mereka tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga mendapatkan ilmu pengetahuan umum yang menjadi bekal menghadapi perkembangan global,” ujar Attarmizi.

Ia menegaskan pendidikan dayah tidak boleh dipandang tertinggal. “Melalui SPM ini kami ingin melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan akhlakul karimah,” katanya.

Dukungan Kemenag Aceh Selatan

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Selatan, Khairul Huda, S.HI.,M.Si, menyambut positif lahirnya SPM. Menurutnya, SPM memberikan pengakuan resmi terhadap sistem pendidikan pesantren sehingga lulusan memiliki kedudukan setara dengan lulusan pendidikan formal.

“Dengan adanya pengakuan tersebut, para lulusan memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, baik perguruan tinggi keagamaan maupun umum. Lulusan SPM juga memiliki peluang lebih luas untuk memasuki dunia kerja,” jelas Khairul Huda.

Ia berharap keberhasilan Dayah Darul Wustha menjadi inspirasi bagi dayah lain di Aceh Selatan untuk mengembangkan SPM.

Ke depan, Dayah Darul Wustha berkomitmen memperkuat tata kelola lembaga, meningkatkan kompetensi tenaga pendidik, memperkaya metode pembelajaran, mengembangkan sarana pendidikan, serta membangun karakter santri.

Tgk. Attarmizi juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Aceh, Pemkab Aceh Selatan, Kemenag Aceh Selatan, Muspika Labuhanhaji Barat, tokoh masyarakat, alumni, dan wali santri atas dukungan terhadap berdirinya SPM.

Peresmian SPM Wustha dan Ulya ini menjadi tonggak penting bagi pendidikan Islam di Aceh Selatan.

“Kehadiran SPM tidak hanya memperkuat legalitas dayah, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya generasi yang menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam,”tutup Tgk. Attarmizi.