RUANGNUSA.COM I ABDYA – Petani di Aceh Barat Daya (Abdya) menikmati panen terbaik dalam delapan tahun terakhir. Di persawahan Cot Seutuy, Keudee Siblah, Kecamatan Blangpidie, hasil gabah melonjak hingga 9–10 ton per hektare.

Padahal biasanya, panen di sana hanya 6–7 ton per hektare dengan varietas umum seperti Inpari.

“Baru kali ini hasilnya sebanyak ini sejak delapan tahun terakhir,” kata Hop Keujreun Blang, Muhammad Ali ketika ditemui di persawahan Cot Seutuy, Sabtu (19/09/2026).

Kabar baiknya, harga gabah juga menggembirakan. Petani menjualnya Rp7.000 per kilogram, di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) oleh Perum Bulog sebesar Rp6.500 per kilogram.

Menurut para petani, ada beberapa penyebab lonjakan hasil:

1. Pengolahan Lahan Maksimal: Sawah dibajak dengan baik, tidak asal-asalan.

2. Hama Berkurang Drastis: Burung tak mengganggu sejak penyemaian sampai panen. Wereng, walang sangit, keong emas, dan tikus juga tak merajalela. Petani cukup semprot obat perangsang, bukan pembasmi hama.

3. Kebijakan Tanam Serentak: Kebijakan Bupati Abdya Safaruddin yang berlaku di seluruh Abdya dinilai jadi kunci.

“Karena tanamnya serentak, burung tidak punya tempat menyerang,” ujar Zul Ilfan, tokoh masyarakat yang juga petani di Cot Seutuy.

Meski panen melimpah, petani masih menghadapi kendala. Mesin pemotong padi (Combine Harvester) kurang sehingga harus didatangkan dari luar daerah.

Ongkosnya naik menjadi Rp20 ribu per karung dari sebelumnya Rp15 ribu. Pupuk bersubsidi sulit didapat. Solar di SPBU juga langka, sehingga petani membeli eceran dengan harga lebih mahal.

“Ongkos naik tidak masalah karena hasil panen banyak. Tapi kami minta pemerintah menambah alat dan menjamin pupuk serta solar,” kata Jasmadi, petani setempat.

Petani berharap pemerintah menambah bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta memperlancar pasokan pupuk dan solar untuk menjaga produktivitas musim tanam berikutnya.