Derita Janda Miskin di Abdya Rawat 3 Cucu Piatu, Bertahan di Tengah Keterbatasan
RUANGNUSA.COM I Abdya — Syamsidar (53) duduk bersandar di dinding rumahnya yang mulai lapuk. Perempuan yang akrab disapa Tek Nong itu kini menjadi satu-satunya penopang hidup bagi lima anggota keluarganya, dua anak gadis remaja dan tiga cucu perempuan yang kehilangan ibu.
Duka belum lama berlalu. Putri sulungnya, Hasnidar, meninggal sekitar dua pekan lalu setelah sakit dan ditelantarkan suaminya. Sejak itu, tiga anak Hasnidar sepenuhnya berada dalam asuhan Tek Nong—tanpa kehadiran sosok ayah.
“Sekarang semua saya yang tanggung,” kata Tek Nong kepada wartawan, Rabu (29/4/2026).
Di rumah sederhana di Dusun Sejahtera, Gampong Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), beban itu terasa nyata. Dinding rumah sebagian mulai rapuh, sementara kebutuhan sehari-hari kerap tak terpenuhi.
Sebelum kondisi ini, Tek Nong bekerja menggembala kerbau milik warga. Namun pekerjaan itu terhenti sejak ia harus merawat cucunya yang masih bayi ketika Hasnidar jatuh sakit usai melahirkan pada Februari 2024.
Sejak saat itu, dapur nyaris tak lagi mengepul dari hasil kerja tetap. Ia bertahan dari bantuan seadanya warga sekitar.
“Untuk makan saja susah, apalagi memperbaiki rumah,” ujarnya pelan.
Keterbatasan ekonomi bukan hanya soal pangan, tetapi juga masa depan. Dua anak gadisnya baru saja menamatkan pendidikan sekolah menengah atas. Namun, tanpa pekerjaan, mereka belum mampu membantu menopang keluarga.
“Kalau bisa ada pekerjaan untuk anak saya. Mereka sudah tamat SMA,” kata Tek Nong.
Ia juga menyimpan kecemasan lain: nasib tiga cucunya yang masih kecil. Status mereka sebagai piatu—tanpa ibu, namun masih memiliki ayah yang tidak bertanggung jawab—membuat perhatian terhadap mereka kerap luput.
“Cucu saya ini piatu, bukan yatim. Tapi justru kurang diperhatikan, padahal mereka ditelantarkan,” ujarnya dengan suara bergetar.
Tek Nong berharap ada pihak yang bersedia menjadi orang tua asuh bagi cucu-cucunya, agar pendidikan dan tumbuh kembang mereka tidak terputus oleh kemiskinan.
Kesulitan ekonomi bahkan sempat mengganggu pendidikan anak-anaknya. Ia mengaku, anaknya kerap tidak masuk sekolah karena tidak memiliki uang jajan maupun biaya bahan bakar untuk pergi ke sekolah yang berjarak jauh.
“Kadang tidak pergi karena tidak ada uang minyak. Sekolahnya jauh ke Suak Labu,” katanya. Meski begitu, ia bersyukur anaknya tetap berhasil lulus.
Salah seorang, tokoh masyarakat setempat, Akiman (42) mengatakan kondisi Tek Nong mencerminkan kerentanan sosial yang nyata di tingkat desa. Beban pengasuhan lintas generasi, menurut dia, tidak diimbangi dengan dukungan ekonomi yang memadai.
“Kami prihatin. Dengan kondisi seperti ini, dia sangat layak dibantu. Warga hanya bisa membantu semampu kami,” kata Akiman.
Ia berharap pemerintah daerah hadir dengan intervensi yang konkret, tidak sekadar bantuan sesaat, tetapi solusi jangka panjang yang dapat memutus rantai kemiskinan keluarga tersebut.
Di tengah segala keterbatasan, Tek Nong memilih bertahan. Namun, waktu dan kebutuhan hidup terus berjalan, sementara harapan kini bergantung pada uluran tangan yang belum pasti datang.

Tinggalkan Balasan