Belasan Pesantren Ikuti Lomba Dalail Khairat di Masjid Agung Baitul Ghafur Dalam Meriahkan HUT Ke-24 Abdya
RUANGNUSA.COM I Abdiya — Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) membuka secara resmi perlombaan Dalail Khairat antar pesantren di halaman Masjid Agung Baitul Ghafur, Selasa (14/4/2026) malam. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 kabupaten tersebut.
Wakil Bupati Abdya, Zaman Akli, membuka langsung kegiatan itu di hadapan unsur pimpinan daerah, ulama, serta ratusan santri dari berbagai pesantren. Hadir pula Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Amrizal, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Tgk Muhammad Dahlan, serta jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya.
Zaman Akli dalam pidatonya mengatakan, perlombaan Dalail Khairat bukan sekadar kegiatan seremonial untuk memeriahkan HUT daerah, melainkan bagian dari upaya memperkuat syiar Islam di tengah masyarakat.
“Ini wujud komitmen kita dalam membangun generasi yang berakhlak dan berlandaskan nilai-nilai keislaman,” katanya.
Menurut politisi Partai Aceh itu, pembangunan daerah tidak cukup hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga harus diimbangi dengan pembangunan mental dan spiritual masyarakat. Ia menegaskan, identitas Abdya sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam harus terus dijaga di tengah perubahan zaman.
Ia juga menyinggung program unggulan pemerintah daerah, yakni Peukong Agama, yang diarahkan untuk memperkuat kehidupan beragama masyarakat. Program tersebut, kata dia, menjadi fondasi dalam membentuk generasi muda yang memiliki akidah kuat dan akhlak mulia.
“Dalail Khairat bukan sekadar lantunan shalawat, tetapi bentuk kecintaan kepada Rasulullah. Di dalamnya ada doa dan harapan untuk mendekatkan diri kepada Allah,” ujar Mantan Ketua DPRK Abdya tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan Dayah Abdya, Tgk Junaidi, mengatakan perlombaan tersebut diikuti oleh 17 pesantren dari seluruh wilayah kabupaten. Kegiatan berlangsung selama empat malam, mulai 14 hingga 17 April 2026.
Junaidi juga mengingatkan peserta untuk menjunjung tinggi sportivitas selama perlombaan. Ia menekankan bahwa hasil akhir bukan tujuan utama, melainkan proses pembelajaran dan nilai keberkahan yang diperoleh.
Selain itu, ia juga berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan maksimal dan memberikan manfaat bagi para peserta.
“Ini bukan hanya kompetisi, tetapi juga sarana pembinaan dan peningkatan kemampuan santri,” ungkap Junaidi.

Tinggalkan Balasan